zmedia

Puisi: Kami Duduk di Teras Rumah

Puisi: Kami Duduk di Teras Rumah

Kehidupan di Beranda Rumah

Di beranda rumah, ada momen yang riuh dan penuh kegembiraan, tetapi juga ada saat-saat sunyi yang menyedihkan. Air mata sering mengalir, menghabiskan tisu demi tisu. Pada saat-saat sunyi yang indah, kami bisa bernyanyi dalam kehidupan yang menikmati angin sepoi-sepoi yang lembut di bawah pohon kihujan, pohon mahoni, dan pohon kelapa sawit yang terlihat damai meskipun tampaknya dahaga.

Kami menerima angin yang lembut dan hangat, namun juga menghadapi genangan luka yang tak terhindarkan. Lingkungan tempat tinggal kami adalah wadas yang dipenuhi bunga-bunga. Kami merasa cantik dan tampan, karena pohon-pohon juga tidak kalah banyaknya dan berhasil meraih juara pertama dalam olimpiade memberikan kesejukan bagi siapa pun.

Kami duduk di beranda rumah dengan gembira dan penuh kelimpahan ketika melakukan reboisasi, membuang sampah pada tempatnya, serta menjaga hati dengan menyegarkan bunga-bunga di post sentral, bunga-bunga di lorong-lorong rumah Tuhan, dan menanam pohon-pohon rindang yang indah sambil berdoa.

Namun, apa daya? Yang terjadi justru tangisan. Kami saling peluk, sedih yang sangat mendalam. Sampah-sampah malah menjadi tradisi kenakalan remaja yang berkeliaran di mana-mana. Batuk berdarah dan debuh yang mengepul dari telapak kaki hingga helai rambut.

Dalam waktu yang sama, sampo clear hitam silaukan rambut semua kita di beranda rumah, seolah-olah malu untuk dipoles ke rambut lumpur kotor. Yang paling menyedihkan adalah banjir, tanah longsor, dan pohon-pohon yang kami tanamkan sambil berdoa telah digundulkan dengan inisiatif masa bodoh.

Luka Sukma Kami

Luka sukma kami ini. Apa daya? Bunga-bunga kesurupan layu, kering, dan mati. Pohon-pohon kami digundulkan, terkapar dihajar bencana di pusat.

Kami duduk di beranda rumah. Tahun ini, tahun yang ngeri. Banyak hal yang diluluhlantakan hingga membuat kami sedih dan habiskan tisu.

Perjalanan Hati Seorang Mahasiswa

Maumere, 19 Mei 2026

Osmin Sale adalah mahasiswa semester dua Prodi Filsafat di IFTK Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Posting Komentar untuk "Puisi: Kami Duduk di Teras Rumah"